Header Ads

Header Ads

Refleksi Kemerdekaan RI 2025: Sejarah Perjuangan Kyai Kajen dalam Melawan Kolonial Belanda dan 6 Kyai dari Kajen yang ditembak Kolonial Belanda

 

 

Mbah Ahmad Mutamakkin merupakan seorang wali yang membabat desa Kajen serta memunculkan banyak pesantren dan sekitarnya. Apabila ditelusuri, pesantren di desa Kajen masih ada garis nasab yang sampai kepada Mbah Ahmad Mutamakkin. Di desa Kajen terdapat tiga sentral pusat Kyai Kajen, diantaranya di Polgarut, Kulon Banon, dan Wetan Banon. Dari sanalah muncul beberapa tokoh yang eksistensinya dibuktikan dengan lembaga yang besar dan kita kenal saat ini, diantaranya Perguruan Islam Mathaliul Falah, Madrasah Salafiyah, dan Perguruan Islam Al-Hikmah. Ketiga lembaga di atas merupakan fakta nyata bahwa keberadaan Mbah Ahmad Mutamakkin Kajen menumbuhkan lembaga-lembaga yang biasa dikenal dengan sebutan pesantren dan Madrasah.  Maka dari itu, sayogyanya santri yang menuntut ilmu agama di desa Kajen perlu memahami cikal bakal pendidikan yang ada di desa Kajen. Karena santri yang belajar di Kajen itu menuntut ilmu yang cikal bakalnya diawali oleh Mbah Ahmad Mutamakkin.

Di desa Kajen, Para Kyai di era KH. Abdussalam dan K.H Siraj masih menemui zaman kolonial Belanda, serta menjadi saksi betapa kejamnya kolonial Belanda yang mencengkram dan menerkam Indonesia dari aspek budaya, pendidikan, sampai hasil bumi.  Inilah yang harus para santri Kajen telusuri para pejuang-pejuangnya. Secara nyata dari cerita orang tua kita, di desa Kajen terdapat 6 Kyai yang menjadi saksi akan kekejaman kolonial belanda dan ditembak oleh Kolonial Belanda. Masyhur diketahui salah satunya Mbah KH. Nawawi Pendiri Pondok Pesantren Kulon Banon yang ditembak di Jepara. Ketika KH. Nawawi sampai di pinggir kali dan ditembak berkali-kali oleh Belanda kemudian dihanyutkan ke dalam sungai, namun dapat ditolong dan dirawat oleh warga jepara dan pada pagi besoknya sudah kembali.

Kemudian KH, Mahfudh Salam (Ayahhanda KH.MA  Sahal Mahfudh) yang ditembak di sekitar penjara di Ambarawa. Kemudian, Kyai Hasyim Mahfudh (Putra dari KH. Mahfudh Salam) ditembak oleh Kolonial Belanda di kecamatan Sukolilo, kabupaten Pati. Semula Kyai Hasyim Mahfudh ditembak berkali-kali oleh kolonial Belanda namun tidak wafat, kemudian Kyai Hasyim Mahfudh disuruh melakukan sujud oleh Kolonial Belanda, ditembak dari belakang dan akhirnya wafat. Adapun Makam dari Kyai Hasyim Mahfudh di pindah ke komplek Makam Pahlawan yang terletak di Puri. Setiap bulan Rajab diadakan Haul Kyai Hasyim Mahfudh oleh TNI, Porli, serta keluarga dan santri datang ke Makam Pahlawan Puri.

Kemudian, KH. Abdul Jabar adalah Kyai dari desa kajen yang ditembak oleh Kolonial Belanda di perbatasan Desa Kajen dan Desa Cebolek. Saat itu, KH. Abdul Jabar ditembak dadanya oleh Kolonial Belanda sampai menimbulkan bekas lubang sebesar diameter cangkir sampai tembus ke belakang yang juga mengenai santri di belakangnya KH. Abdul Jabar, tetapi yang meninggal justru santrinya KH. Abdul Jabar. Kemudian, putra dari KH. Abdul Jabar di tembak di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara. Kemudian Putra dari KH. Mustagfiri jurusan lorong Pondok APIK Kajen yang konon ceritanya, jenazahnya di letakkan di pertigaan desa Ngemplak Kidul.

Selain itu, Kyai-Kyai Kajen juga melakukan strategi gerilya untuk menghadapi kolonial Belanda, yakni dengan membidik kolonial belanda pada waktu malam hari. Termasuk juga KH. Ali Mukhtar Salam (adiknya KH. Abdullah Zain Salam), KH. Sahal Mahfudh, KH. Faqihuddin dan Kyai-Kyai yang lain juga ikut perang dengan sembunyi-sembunyi. Kalau ditelusuri, Para Kyai Kajen mempunyai wawasan kebangsaan yang luar biasa sebagaimana KH. Hasyim Asy’ari Pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Banyak sekali pada saat itu, Para Kyai pada malam hari gerilnya memburu kolonia Belanda, namun pagi harinya tetap mengajar di pesantren.

Secara umum, Para Kyai di Indonesia, termasuk dari desa Kajen memikirkan negara Indonesia dengan cara-cara yang dimiliki, secara jihad melawan kolonial belanda pada malam hari dan mencerdaskan bangsa melalui pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren. Maka dari itu, jihadnya seorang kyai itu secara lahir dan batin, yakni dengan membangun madrasah dan pesantren di desa bahkan sampai pelosok. Sehingga tanpa ada rasa pamrih, Kyai tetap mengajar santrinya supaya menjadi insan yang berguna di dunia maupun di akherat. Secara wawasan kebangsaan, Para Kyai juga turut jihad dengan harta, jiwa, dan raganya dalam rangka mengusir belanda. Maka dengan demikian, Pesantren dan Madrasah juga tidak ketinggalan ambil bagian dalam rangka mewarnai kegiatan kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus sebagai bentuk syukur atas merdekanya negara Indonesia, diantaranya dengan mengikuti apel bendera di lapangan yang diikuti seluruh siswa dan santri, tirakatan dalam rangka mendoakan para pejuang kemerdekaan Indonesia, karnaval yang menggambarkan kondisi perjuangan melawan penjajah pada saat itu.

Maka dari itu, para santri harus turut serta mewarnai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya dengan turut serta mengikuti upacara kemerdekaan, dikenalkan betapa susah payahnya para pahlawan dahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah, menambah wawasan kebangsaan serta memiliki semangat cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mendarah daging sebagaimana yang telah diwariskan oleh para pahlawan kemerdekaan terdahulu. Tidak hanya sekedar duduk manis saja, tetapi memiliki aksi yang nyata untuk NKRI.

 

Ditulis berdasarkan sambutan dari KH. Asnawi Rahmat, Lc. Pada kegiatan Tadarus Buku Sulur Perjuangan, tanggal 18 Juli 2024 bertempat di Aula Pondok Pesantren Al-Roudloh Kajen

(Risqi Aditia Pratama)