Mbah Ahmad Mutamakkin merupakan seorang wali yang membabat desa Kajen serta
memunculkan banyak pesantren dan sekitarnya. Apabila ditelusuri, pesantren di
desa Kajen masih ada garis nasab yang sampai kepada Mbah Ahmad Mutamakkin. Di
desa Kajen terdapat tiga sentral pusat Kyai Kajen, diantaranya di Polgarut,
Kulon Banon, dan Wetan Banon. Dari sanalah muncul beberapa tokoh yang eksistensinya
dibuktikan dengan lembaga yang besar dan kita kenal saat ini, diantaranya
Perguruan Islam Mathaliul Falah, Madrasah Salafiyah, dan Perguruan Islam
Al-Hikmah. Ketiga lembaga di atas merupakan fakta nyata bahwa keberadaan Mbah
Ahmad Mutamakkin Kajen menumbuhkan lembaga-lembaga yang biasa dikenal dengan
sebutan pesantren dan Madrasah. Maka
dari itu, sayogyanya santri yang menuntut ilmu agama di desa Kajen perlu
memahami cikal bakal pendidikan yang ada di desa Kajen. Karena santri yang
belajar di Kajen itu menuntut ilmu yang cikal bakalnya diawali oleh Mbah Ahmad
Mutamakkin.
Di desa Kajen, Para Kyai di era KH. Abdussalam dan K.H Siraj masih menemui zaman
kolonial Belanda, serta menjadi saksi betapa kejamnya kolonial Belanda yang
mencengkram dan menerkam Indonesia dari aspek budaya, pendidikan, sampai hasil
bumi. Inilah yang harus para santri
Kajen telusuri para pejuang-pejuangnya. Secara nyata dari cerita orang tua
kita, di desa Kajen terdapat 6 Kyai yang menjadi saksi akan kekejaman kolonial
belanda dan ditembak oleh Kolonial Belanda. Masyhur diketahui salah satunya
Mbah KH. Nawawi Pendiri Pondok Pesantren Kulon Banon yang ditembak di Jepara.
Ketika KH. Nawawi sampai di pinggir kali dan ditembak berkali-kali oleh Belanda
kemudian dihanyutkan ke dalam sungai, namun dapat ditolong dan dirawat oleh
warga jepara dan pada pagi besoknya sudah kembali.
Kemudian KH, Mahfudh Salam (Ayahhanda KH.MA
Sahal Mahfudh) yang ditembak di sekitar penjara di Ambarawa. Kemudian,
Kyai Hasyim Mahfudh (Putra dari KH. Mahfudh Salam) ditembak oleh Kolonial
Belanda di kecamatan Sukolilo, kabupaten Pati. Semula Kyai Hasyim Mahfudh
ditembak berkali-kali oleh kolonial Belanda namun tidak wafat, kemudian Kyai
Hasyim Mahfudh disuruh melakukan sujud oleh Kolonial Belanda, ditembak dari
belakang dan akhirnya wafat. Adapun Makam dari Kyai Hasyim Mahfudh di pindah ke
komplek Makam Pahlawan yang terletak di Puri. Setiap bulan Rajab diadakan Haul
Kyai Hasyim Mahfudh oleh TNI, Porli, serta keluarga dan santri datang ke Makam
Pahlawan Puri.
Kemudian, KH. Abdul Jabar adalah Kyai dari desa kajen yang ditembak oleh Kolonial Belanda di perbatasan Desa Kajen dan Desa Cebolek. Saat itu, KH. Abdul Jabar ditembak dadanya oleh Kolonial Belanda sampai menimbulkan bekas lubang sebesar diameter cangkir sampai tembus ke belakang yang juga mengenai santri di belakangnya KH. Abdul Jabar, tetapi yang meninggal justru santrinya KH. Abdul Jabar. Kemudian, putra dari KH. Abdul Jabar di tembak di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara. Kemudian Putra dari KH. Mustagfiri jurusan lorong Pondok APIK Kajen yang konon ceritanya, jenazahnya di letakkan di pertigaan desa Ngemplak Kidul.
Selain itu, Kyai-Kyai Kajen juga melakukan strategi gerilya untuk
menghadapi kolonial Belanda, yakni dengan membidik kolonial belanda pada waktu
malam hari. Termasuk juga KH. Ali Mukhtar Salam (adiknya KH. Abdullah Zain
Salam), KH. Sahal Mahfudh, KH. Faqihuddin dan Kyai-Kyai yang lain juga ikut
perang dengan sembunyi-sembunyi. Kalau ditelusuri, Para Kyai Kajen mempunyai
wawasan kebangsaan yang luar biasa sebagaimana KH. Hasyim Asy’ari Pendiri
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Banyak sekali pada saat itu, Para Kyai pada malam
hari gerilnya memburu kolonia Belanda, namun pagi harinya tetap mengajar di
pesantren.
Secara umum, Para Kyai di Indonesia, termasuk dari desa Kajen memikirkan
negara Indonesia dengan cara-cara yang dimiliki, secara jihad melawan kolonial
belanda pada malam hari dan mencerdaskan bangsa melalui pendidikan dan
pengajaran di pondok pesantren. Maka dari itu, jihadnya seorang kyai itu secara
lahir dan batin, yakni dengan membangun madrasah dan pesantren di desa bahkan
sampai pelosok. Sehingga tanpa ada rasa pamrih, Kyai tetap mengajar santrinya
supaya menjadi insan yang berguna di dunia maupun di akherat. Secara wawasan
kebangsaan, Para Kyai juga turut jihad dengan harta, jiwa, dan raganya dalam
rangka mengusir belanda. Maka dengan demikian, Pesantren dan Madrasah juga
tidak ketinggalan ambil bagian dalam rangka mewarnai kegiatan kemerdekaan
Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus sebagai bentuk syukur atas
merdekanya negara Indonesia, diantaranya dengan mengikuti apel bendera di
lapangan yang diikuti seluruh siswa dan santri, tirakatan dalam rangka
mendoakan para pejuang kemerdekaan Indonesia, karnaval yang menggambarkan
kondisi perjuangan melawan penjajah pada saat itu.
Maka dari itu, para santri harus turut serta mewarnai hari kemerdekaan
Republik Indonesia. Diantaranya dengan turut serta mengikuti upacara
kemerdekaan, dikenalkan betapa susah payahnya para pahlawan dahulu dalam
memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah, menambah wawasan kebangsaan serta
memiliki semangat cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mendarah
daging sebagaimana yang telah diwariskan oleh para pahlawan kemerdekaan
terdahulu. Tidak hanya sekedar duduk manis saja, tetapi memiliki aksi yang
nyata untuk NKRI.
Ditulis berdasarkan
sambutan dari KH. Asnawi Rahmat, Lc. Pada kegiatan Tadarus Buku Sulur
Perjuangan, tanggal 18 Juli 2024 bertempat di Aula Pondok Pesantren Al-Roudloh
Kajen
(Risqi Aditia
Pratama)

